Translate:

Tampilkan postingan dengan label terorisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terorisme. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Juli 2021

KAUM MUSYABBIHAH MUJASSIMAH MENGOTORI MADZHAB HANABILAH

KAUM MUSYABBIHAH MUJASSIMAH MENGOTORI MADZHAB HANABILAH.
Bagian 2.

 






● Pengikut Abu Bakar Al-Marwazi Al-Mujassimah Al-Hanbali
- Imam Ibnu Atsir (w. 630 H) bercerita dalam Kitab Tarikhnya :


وفيها وقعت فتنة عظيمة ببغداد بين اصحاب ابي بكر المروزي الحنبلي ،
وبين غيرهم من العامة ،
ودخل كثير من الجند فيها ،
وسبب ذلك ان اصحاب المروزي قالوا في تفسير قوله تعالى ( عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا ) هو ان الله سبحانه وتعالى يقعد النبي صلى الله عليه وسلم معه على العرش ،
وقالت الطائفة الاخرى انما هو الشفاعة ،
فوقعت الفتنة واقتتلوا ،
فقتل بينهم قتلى كثيرة
“ Dan pada tahun 317 Hijriyyah, Satu fitnah yang besar telah berlaku di Baghdad di antara Pengikut Abu Bakar Al-Marwazi Al-Hanbali (Al-Mujassimah) dan orang-orang lain daripada masyarakat umum. Dan ramai daripada Pasukan telah masuk ke dalamnya (Baghdad).
Dan sebab bagi (fitnah) tersebut ialah bahwa sesungguhnya para pengikut Al-Marwazi Mentafsirkan firman Allah Ta’ala
(Surah Al-Isra’: 79):
“Semoga Tuhanmu Membangkit dan Menempatkanmu pada hari Akhirat di tempat yang Terpuji.”
Bahwa sesungguhnya Allah (Maha Suci) akan Meletakkan Nabi Saw Bersamanya di atas Arasy.
Dan golongan yang lain pula berkata:
"Bahwasanya Ia (tempat yang terpuji itu) adalah Syafa'at.
Maka berlakulah Fitnah dan mereka saling Membunuh, Hingga yang terbunuh di kalangan mereka itu sangat ramai.”
~ ( Imam Abu Al-Hasan Ali bin Abi Al-Karam Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim As-Syaibani Izzuddin Ibn Al-Atsir (w. 630 H), Al-Kamil fi At-Tarikh,
● Fitnah Tajsim yang timbul pada tahun 317H di Baghdad dari salah seorang Hanabilah Mujassimah Yaitu Abu Bakar Al-Marwazi Al-Hanbali telah Menyebabkan pertumpahan darah yang banyak berlaku di Kalangan Umat Islam,
Disebabkan Hasil dari Menyelewengkan Tafsir Nash Al-Quran.

KITAB AQIDAH SYARHUS SUNNAH KITAB PALSU YANG DISANDARKAN KEPADA IMAM MUZANI. .

KITAB AQIDAH SYARHUS SUNNAH KITAB PALSU YANG DISANDARKAN KEPADA IMAM MUZANI.
.

 






Syarhus Sunnah Al Muzani Kitab palsu.
.
Buku ini diback up kepada Imam Al-Muzaniy yang termasuk santri utama Imam Asy-Syafie. Dia berjudul Syarah As-Sunnah yang berbicara beberapa bab keimanan.
Waspadalah terhadap isinya terutama yang telah diterjemahkan oleh kelompok Salafy-Wahabi yang membayar untuk menjual agama demi kebaikan dunia dengan mengubah isinya bahkan asal kitab suci tidak sabit dari tulisan Imam Ismail bin Yahya Al-Muzaniy (175 H-264 H) sendirian.
1-Kitab Suci ini, ketika dirujuk ke pusat percetakan pro-Wahabi pro-kitab percetakan kita akan menemukan Wahhabi yang seharusnya mengatur sanad kitab suci.. Tapi malu seribu malu ternyata banyak perawi yang menjadi perawi Tidak dikenal sebagai perawi atau ulama bahkan banyak orang dalam sanksi yang dirancang lemah bahkan terkenal dengan Waddho ' yang suka memalsukan teks kitab suci seperti Al-Hakkariy dan selainnya yang dihukum oleh Ibnu Hajar sebagai pemalsu.
2-Isinya juga sudah berubah dan memiliki 3 versi berbeda satu sama lain. Di tambah mirip dengan pemahaman Tashbih oleh musuh-musuh Allah yang ghaib.. Lalu yang salah di terjemahkan ke bahasa lain maka bukan hanya yang palsu yang berusaha terlihat benar tetapi juga menambahkan kata-kata yang tidak ada di dalamnya Buku asli walaupun awalnya juga Bukan sabit dek narator yang majhul.
3-Berhati-hatilah dengan banyak kitab yang diterjemahkan saat ini terutama dari penerjemah Wahhabi / Syiah atau cetakan pro Wahabi karena hampir 1500 judul kitab suci dengan berbagai latar belakang dan berbagai judul telah diubah Wahhabi. Kejahatan ini sangat berat dan wahabi / syiah harus bertobat.
SEMOGA ALLAH MEMELIHARA KITAB-KITAB ULAMA SALAF YANG SESUNGGUHNYA..
🤲🤲🤲


Senin, 08 Juni 2015

misteri kalimat tauhid di bendera ISIS

Kita semua Tahu bendera Isis berwarna Hitam dan seolah olah bertuliskan kalimahTauhid. Padahal itu bukan kalimah Tauhid melainkan rangkaian kata "ILLUMINATI"
Dalam kaligrafi Arab ada jenis-jenis atau macam-macam model kaligrafi :

1. khat khaufi
2. khat naskhi
3. khat riq'ah
4. khat raihani
5. khat diwan jali
6. khat tsulut
7. khat farisi
8. khat diwani

ternyata huruf "lam alif" pada bendera ISIS tak satupun termasuk dalam huruf "lam alif" pada kaligrafi arab manapun hurup yang digunakan lam alif pada bendera isis berbeda.
Hurup yang digunakan Isis adalah hurup hurup ibrani atau kita kenal dengan hurup hebrew yang biasa digunakan oleh orang Yahudi bagian barat (romawi ) dan kitab taurat kuno. orang-orang ini-lah dalam sejarahnya berniat membunuh dan menyalib nabi Isa a.s.
Nah Rangkaian kalimat bendera Isis menggunakan tulisan ibrani yang sepintas mirip kalimah Tauhid. perhatikan metoda pembuatan Kalimat bendera Isis dalam Gambar yg artinya pada akhirnya membentuk kata ILLUMINATI yg tersamar seolah kalimat tauhid..
Bandingkan dgn bendera Asli Rasulullah yg justru berwarna merah putih di istana topkapi. turki. dan tulisan kalimah tauhidnya benar dan jelas ditambah beberapa tulisan ditepianya.
Fakta mengejutkan bahwa Pemimpin Isis Abu bakar Albaghdadi ternyata bernama Asli Shamoon Ayloot dan ternyata adalah keturunan Yahudi barat !

CAP STEMPEL BENDERA ISIS PALSU'!

Cincin Nabi yang ASLI ada di Istana topkafi. istambul.turki. (semua boleh buktikan).
Nah pada cincin asli ini struktur penulisannya diketahui : lafadz"ALLAHU"berada diatas ,, lafadz "MUHAMMAD" di sudut kanan bawah", lafadz "RASUL" disudut kiri bawah. jadi tulisan itu jika dibaca dari kanan ke kiri lalu ke atas menjadi ,"MUHAMMAD RASUL ALLAHU" Bandingkan dengan yang ada dibendera Isis yg justru semua berurutan tapi posisi ditengah. mengenai surat NABI untuk muqauqis yang ada stempel ISIS (ALLAHU RASUL MUHAMMAD) itu hanya replika atau salinan yang dibuat ulang dari yang aslinya, kemudian diberi tanda stempel ISIS.
Background surat untuk raja muqauqisnya biru krn hanya salinan dan copian yang discan ulang ke komputer.
Surat yang aslinya sebenarnya sudah hampir tidak terlihat lagi tulisannya,  itulah surat yang asli untuk raja muqauqis yang ada di Istana topkapi.
Kaum ISIS ILLUMINATI memang sudah mempersiapkan hal ini sejak lama untuk menipu ummat Islan agar menyangka stempel cincin itu sebagai stempel CINCIN NABI. tujuannya agar umat islam tanpa menyadari jika ditipu oleh mereka dan pada akhirnya kelak supaya umat Islam ini menjadi pengikut dajal sebagai wujud balas dendam mereka terhadap Nabi nabi agama samawi yang telah memerangi dan menghancurkan mereka sebagai kaum pagan. jika ISIS memang pengikut Rasulullah dan jika ISIS memang Islam tentu mereka tak akan berani menghancurkan dan meratakan makam NABI YUNUS A.S, , makam NABI SETH, makam NABI DANIEL, makam NABI JIRJIS. keberanian mereka menghancurkan makam para nabi, membunuh umat Islam yg tidak mau mengikuti jejak mereka, jelas karena mereka memang bukan Islam melainkan hanya memanfa'atkan kelemahan islam.!!
Kesimpulannya Isis adalah pasukan Dajjal berbaju Islam dan terkait bendera hitam maka dalam beberapa hadits sudah sangat jelas menerangkan jika mereka kaum penipu dengan berbendera Hitam !!
Nuaim bin hammad telah meriwayatkan dengan sanad yang sampai pada raja bin abi salmah dari uqbah bin abi zainab bahwa ia pernah datang ke baitul maqdis untuk bersembunyi. maka, saya bertanya kepadanya: apakah anda takut kepada maghrib? Ia menjawab: 'tidak, petaka yang mereka timbulkan tidak akan keluar dari kalangan mereka, kecuali setelah munculnya bendera bendera hitam. jika bendera bendera hitam itu telah keluar, maka takutlah akan kejahatan mereka. kitab Al fitan dari zuhri, ia berkata: apabila bendera bendera hitam telah berselisih di antara mereka, maka mereka akan didatangi oleh bendera bendera kuning... kitab al fitan

Dalam sebuah hadits, Al-Barra’ bin ‘Azib RA ditanya tentang rupa bendera rayah di zaman Rasulullah SAW, beliau menjawab, “Warnanya hitam, bentuknya persegi, dan terbuat dari kain.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Sabda Nabi SAW,"Al-Mahdi akan muncul setelah keluarnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur, yang mana pasukan ini tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun."(Hr.Ibnu Majah).

"Akan keluar dari sulbi ini seorang Putera yang akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini yang demikian itu, hendaklah kamu turut menyertai Putera dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang panji-panji al- Mahdi." HR.at tabrani.

jika kita simak, al mahdi (versi aswaja) baru akan muncul setelah keluarnya pasukan panji hitam. dan itu artinya:

ISIS bukan pasukan KHILAFAH melainkan pengacau.



Sabtu, 06 Juni 2015

dakwah yang salah

Wahabi/isis membuka agenda.

Sekarang wahabi  tidak percaya dengan adanya wali allah. Si badrussalam (ustdz wahabi di salah satu tv/radio kabel beraliran salafi/wahabi) lancang telah membuat opini bahwa sejarah penyebar islam di nkri wali songo adalah fiktif belaka.
Faham wahabi sudah persis Dien orang-orang kafir/melupakan sejarah, tidak mengenal sosok-sosok alim ulama wali songo, beliau-beliau sudah berhasil menyebarkan ajaran islam di nusantara.
Seiring perhelatan isu politik- dunia abad sekarang. politisasi negri yang mayoritas memeluk ajaran islam pun mulai rasuki isu politik dari negri timur tengah yang nota bene basic islam.
Rupanya Isu isis mulai merambah ke indonesia melalui corong-corong yang mereka ajarkan manhaj salafi wahabi  Dan tak dapat di pungkiri Allah Ta'ala telah membuka kedok mereka, dgn terang2an imam wahabi bani su'ud mengakui ISIS bagian adalah dari mereka. Dan ini propaganda wahabi/isis telah di ketahui jika tujuannya bukan meluruskan ajaran islam di belahan dunia tetapi wahabi/isis adalah politik meng arabisasi dunia. Jebakan teriakan jihad tujuanya merebut kekaya'an negara yg mereka singgahi haus darah, plus haus kekuasa'an. UUD (ujung-ujungnya duit)


Para pengikut doktrin ajaran salafi/wahabi di depan publik bila masih ngotot tidak mau mengakui salah dan tidak mau minta ma'af terkait ucapannya tentang tidak ada bukti otentik Walisongo atau fiktif.

Ini adalah bukti dan fakta bahwa Walisongo itu ada dan nyata. Berikut ini saya lampirkan scanan screenshoot "Het Boek van Bonang" yang berisikan kisah Walisongo yang ditulis oleh peneliti Belanda berdasarkan bukti-bukti manuskrip dan juga scanan asli tulisan tangan nasehat Sunan Bonang dalam bahasa Jawa. Bukti tersebut ada di Museum Leiden Belanda.

Kenapa bukti manuskrip itu ada di Museum Belanda? Dulu Indonesia kalah perang, Belanda merampas dan mengambil kitab-kitab kuno klasik ulama leluhur Bangsa Indonesia. Dulu bagi Belanda apa yang mereka ambil dianggap sebagai rampasan perang (ghanimah).

Tidak hanya manuskrip tulisan tangan asli Walisongo yang diambil Belanda. Bahkan kitab tarekat Syattariyah yang dikenal dengan kitab "Martabat Tujuh" juga ada di Belanda, yang di sana dikenal dengan "Mystic of Letter". Mereka (Belanda) menamakan kitab  "Martabat Tujuh" dengan sebutan "Mystik of Letter" karena tidak mampu mengkaji dan mengupas rahasia keilmuan kitab tersebut. Bahkan lukisan asli Syaikh Abdurrauf Singkil ternyata ada di Belanda. Belanda banyak mengambil kitab-kitab kuno ulama Nusantara untuk dipelajari dan mencoba mencari tahu rahasia kekuatan spritual yang tersimpan pada makna kitab kuno tersebut.



Mengapa Walisongo tidak membuat kitab? Tugas dan dakwah Walisongo ke Nusantara mengislamkan penduduk negeri tersebut. Karena beratnya tantangan dan penduduk Nusantara baru masuk Islam hingga mereka tak punya waktu untuk membuat kitab. Walisongo berdakwah dengan maqam ihsan (perbuatan) yaitu terjun langsung ke lapangan mengislamkan penduduknya yang masih animisme dan dinamisme.

Sedangkan ustadz Salafi-Wahabi dakwahnya hanya dengan cuap-cuap bebek, mencari-cari celah kekurangan amaliah orang, sering menuduh sembarangan terhadap amaliah sunnah yang dilestarikan dengan sebutan bid'ah, kadang sampai mengkafirkan, bahkan terkadang menyebut terhadap orang yang bukan termasuk golongannya. Dan anehnya motto para ustadz Salafi-Wahabi "berdakwah mengislamkan yang sudah Islam", bukannya mengislamkan yang belum Islam. Apa orang Islam yang belum didakwahi ustadz Salafi-Wahabi dianggap belum Islam hingga perlu diislamkan lagi?

Hal yang paling lucu dan menggelikan dulu Salafi-Wahabi berkata: "Walisongo melarang bid'ah Tahlilan". Eh tiba-tiba ustadz Rodja Salafi-Wahabi Badrussalam Lc., malah berani bilang Walisongo itu fiktif. Pikun atau plinplan?

Dengan bukti di atas mudah bagiku untuk memenjarakan ustadz Rodja Badrussalam Lc., (Lucu dan culun) ke penjara. Tapi aku masih berbaik hati, semoga ustadz Rodja tersebut meminta maaf dan menarik kembali prasangka dan tuduhan kejinya. Namun jika dia tidak mau meminta maaf dan tidak menarik kembali ucapannya maka semoga Allah Swt. memberikan hidayah padanya. (Oleh: Ust. Jefri Nofendi).

dunia barat sentimen terhadap negara-negara islam bag I

Globalis Menciptakan Terorisme Wahhabi Untuk Menghancurkan Islam Dan Menjustifikasi Negara Dunia
The 'House' of Saud no more Islamic than Billy Graham Menurut prinsip dialektik Hegel. Pendukung Global telah menciptakan dua kekuatan yang saling bertentangan, "Demokrasi-Liberal" Barat, melawan Terorisme, atau "politik Islam", mereka memaksa kita untuk menerima alternatif akhir, sebuah Tatanan Dunia Baru. Barat dan Islam telah lama mengalami masa keserasian, namun sejarah ini telah dikesampingkan untuk membantu mitos "Benturan Kebudayaan" Dalam rangka membakar sentimen Barat melawan Islam. Perhatian kita pusatkan kepada sosok fanatik Wahhabisme, dan lebih spesifik lagi, terhadap seorang exponen paling notorius, yaitu Osama bin Laden. Sebagaimana diuraikan didalam sebuah tulisan yang bagus oleh Peter Goodgame, The Globalists and the Islamists,, Globalis berperan dalam membentuk dan membiayai semua organisasi teroris abad ke-20, termasuk Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hamas di Palestina dan Mujahidin Afghanistan. Akan tetapi sejarah bermuka dua Globalis dapat dilihat jauh ke masa lalu, yaitu pada abad ke-18 ketika Freemasonry Inggris menciptakan sekte Wahhabi di Saudi Arabia, yang diperalat untuk mencapai tujuan imperialis Inggris. Seorang mata-mata Inggris bernama Hempher bertanggungjawab dalam membentuk ajaran ekstrim Wahhabisme, hal ini disebutkan dalam sebuah karya tulis Turki Mir'at al-Haramain, oleh Ayyub Sabri Pasha antara tahun 1933-1938. Politik Inggris di wilayah jajahan sering menciptakan aliran yang menyimpang, hal ini dilakukan dalam rangka Memecah-belah dan Menaklukan , seperti pembentukkan sekte Islam Ahmadiyyah di India dalam abad ke-19. Rincian konspirasi ini diuraikan di dalam sebuah dokumen yang kurang dikenal dengan nama The Memoirs of Mr. Hempher diterbitkan dalam bentuk serial (episode) di surat kabar Jerman, der Spiegel , dan kemudian diterbitkan juga di dalam surat kabar terkenal Perancis. Seorang dokter bangsa Libanon menterjemahkan dokumen tersebut ke dalam bahasa Arab, dari bahasa Arab dialih- bahasakan kedalam bahasa Inggris dan beberapa bahasa lainnya. Dokumen itu merupakan laporan pertanggungjawaban misi Hempher kepada pemerintah Inggris, yang telah menugaskannya ke Timur Tengah untuk menemukan cara-cara bagaimana meruntuhkan Kekaisaran Turki. Diantara rencana jahat Inggris yang dipromosikan Hempher adalah rasialisme, nasionalisme, alkohol, perjudian, pelacuran dan mengupayakan wanita Islam menanggalkan pakaian jilbabnya. Tapi yang paling penting adalah strategi memasukan bid'ah kedalam ajaran Islam dan kemudian mengkritik Islam sebagai agama teror.
Untuk tujuan ini, Hempher memilih orang yang buruk akhlaknya bernama Mohammad Ibn Adbul Wahhab. Untuk memahami jenis fanatisme yang ditanamkan kedalam ajaran Wahhabisme, pertama-tama penting untuk diketahui bahwa Islam, tanpa melihat suku dan kebangsaannya, menganggap semua orang Islam sebagai saudara se-Iman. Membunuh sesama muslim dilarang keras. Akan tetapi, sebagai bagian dari siasat Memecah-belah dan Menaklukan, Inggris harus mengadu-domba Arab Islam melawan saudaranya bangsa Turki. Cara satu-satunya untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menemukan celah di dalam hukum Islam yang dapat dimanfaatkan, yang dengan itu orang- orang Arab dapat menyatakan Turki sebagai orang yang murtad. Abdul Wahhab diperalat Inggris agar dapat menyampaikan gagasan jahatnya kepada orang Islam di Semenanjung Arab. Wahhab melaksanakan ide Inggris dengan menghasut para ulama bahwa saudara mereka bangsa Turki telah murtad, oleh karenanya dibolehkan untuk dinunuh bila menolak pembaharuan Islam yang dilakukan Abdul Wahhab, termasuk seluruh dunia Islam yang menolak, memperbudak wanita dan anak- anaknya, kecuali sebagian kecil para pengikutnya yang sesat. Gerakan Wahhabi tidak berarti tanpa adanya kesetiaan keluarga Saudi, keturunan pedagang Yahudi dari Iraq (were descended from Jewish merchants from Iraq). Para ahli fiqih waktu itu memberikan label kepada Wahhabi sebagai pelaku bid'ah dan mengecam sikap fanatik dan tidak toleran. Meskipun demikian, Wahhabi tetap mempertahankan keyakinannya dengan tidak pandang bulu. melakukan pembantaian terhadap orang Islam dan non-Islam. Kemudian Wahhabi mulai menghancurkan tempat- tempat yang dianggap keramat dan pekuburan umum, mereka mencuri peninggalan Nabi, termasuk Al-Qur'an, karya seni dan barang- barang berupa hadiah yang tak ternilai harganya milik kota yang dikirim ribuan tahun lalu. Sultan Turki menghentikan perlawanan Wahhabi pertama pada tahun 1818, namun sekte Wahhabi bangkit kembali di bawah pimpinan Saud al-Faisal I. Walaupun tidak kuat, gerakan Wahhabi kemudian bangkit lagi, namun ditumpas lagi oleh Sultan Turki pada akhir abad ke-19. Setelah Perang Dunia I, bekas wilayah Kekaisaran Turki dipecah-pecah menjadi beberapa wilayah pemerintahan boneka. Untuk membantu meruntuhkan kekuasaan di wilayah itu, Ibnu Saud diberi hadiah oleh Inggris dengan membentuk Kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1932. Setahun kemudian, Kerajaan Saudi memberikan konsesi minyak kepada California Arabian Standard Oil Company (Casoc, sekarang bernama CHEVRON), yang dikepalai oleh orang kepercayaan Rothschild, dan pimpinan keluarga Illuminati di Amerika, yaitu Rockefeller. Sejak saat itu, Saudi Arabia menjadi sekutu terpenting Barat di Timur Tengah, bukan hanya sekedar memberikan akses kepada cadangan minyak yang melimpah, tapi juga dalam rangka melemahkan perlawanan Arab terhadap Israel . Kemunafikan penguasa Saudi terlihat jelas dengan menindas secara brutal pihak yang berbeda pandangannya dengan penguasa. Aspek penting lainnya adalah mencegah dan menghalangi para ulama berbicara politik mengkritik rejim penguasa. Di dalam buku The Two Faces of Islam Stephen Schwartz menulis, : Hawa nafsu mereka membawanya ke kedai minum, kasino, rumah pelacuran.
Mereka membeli armada mobil, pesawat jet pribadi, kapal pesiar seukuran kapal perang. Mereka menginvestasikan uangnya dalam seni Barat yang bernilai yang mereka sendiri tidak memahaminya atau yang sejenisnya, seringkali mereka menyakiti perasaan ulama Wahhabi. Mereka membelanjakan uangnya sekehendak hatinya, mereka juga menjadi pola perbudakan seks internasional dan dalam mengeksploitasi anak-anak. Dalam rangka memperlihatkan dukungannya kepada Islam, rejim Saudi dan ulama bayarannya menyusun versi Islam yang menekankan seremonial agama secara terinci. Cara yang dilakukan telah memberikan dukungan atas interpretasi hukum Islam secara harfiah, dan memungkinkan orang- orang seperti bin Laden mengeksploitasi Al- Qur'an sebagai alasan pembenar membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Akhirnya, melimpahnya uang petro-dolar Rothschild dari keluarga Saudi telah memungkinkan bagi mereka melakukan propaganda Islam versi Wahhabi ke bagian dunia lain, terutama sekali ke Amerika, dimana mereka memberikan bantuan keuangan kepada lebih dari 80% mesjid di negeri ini. Wahhabi adalah sebuah versi Islam yang meggantikan kesadaran politik dengan dogma yang menekankan atas pelaksanaan ritual yang fanatik. Pada tahun 1999 Raja Fahd dari Saudi Arabia menghadiri pertemuan Bilderberg, bersama- sama dengan tokoh lainnya seperti Yasser Arafat dan Paus, untuk membicarakan perannya dalam memajukan kepentingan pemerintahan dunia, Keluarga Saudi jelas merupakan bagian dari jaringan perkumpulan rahasia Illuminati. Kekayaan petro-dolar mereka yang melimpah digunakan untuk mendanai terorisme global, dari Afghanistan sampai ke Bosnia , semata-mata dengan tujuan untuk menimbulkan permusuhan yang kuat dunia melawan Islam.

Sabtu, 30 Mei 2015

TRADISI & WASIAT PARA SALAFUS SHOLEH YANG DITENTANG DAN DITINGGALKAN OLEH ORANG BODOH YANG MERASA PANDAI

semoga kita bisa selalu mengamalkan wasiat para salafus sholeh ini.

● Imam Ibnul Qayyim Al jauziyah (musrid Ibnu Taimiyah) dalam kitab Ar Ruh Beliau berkata:

وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك

“dan sungguh telah disebutkan dari jama’ah salafush shalih bahwa mereka berwasiat agar dibacakan al-Qur’an disisi qubur mereka waktu dimakamkan, Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa- memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman, sedangkan awalnya Imam Ahmad mengingkari yang demikian karena atsar tentang hal itu tidak sampai kepadanya namun kemudian Imam Ahmad ruju’ dari yang demikian”

● Imam Ahmad Salamah al-Qalyubiy didalam Hasyiyatani Qalyubi wa ‘Umairah pada pembahasan terkait ziarah qubur :

قوله: (ويقرأ) أي شيئا من القرآن ويھدي ثوابه للميت وحده أو مع أھل الجبانة، ومما ورد عن السلف أنه من قرأ سورة الإخلاص
إحدى عشرة مرة، وأھدى ثوابھا إلى الجبانة غفر له ذنوب بعدد الموتى فيھا

“frasa (dan –disunnahkan- membaca al-Qur’an) yakni sesuatu yang mudah dari al-Qur’an, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada satu mayyit atau bersamaan ahl qubur lainnya, dan diantara yang telah warid dari salafush shalih
adalah bahwa barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas 11 kali, dan menghadiahkan pahalanya kepada ahl qubur maka diampuni dosanya sebanyak orang yang mati dipekuburan itu”.

● Tuhfatul Habib (Hasyiyah al-Bujairami) :

وقد نقل الحافظ السيوطي أن جمھور السلف والأئمة الثلاثة على وصول ثواب القراءة للميت
“dan sungguh al-Hafidz As-Suyuthi telah menaqal bahwa Jumhur Salafush Shaleh dan Aimmatuts Tsalatsah (Imam Tiga : Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hanbal) menyatakan sampainya pahala bacaan al-Qur’an untuk mayyit”.

● Imam Jalalauddin As-Suyuthi didalam Syarh Ash-Shuduur :

إختلف في وصول ثواب القراءة للميت فجمهور السلف والأئمة الثلاثة على الوصول

“Ulama berselisih tentang sampainya pahala bacaan al-Qur’an untuk orang mati. Pendapat jumhur Salafush shaleh dan Imam tiga (Abu Hanifah, Malik, Ahmad) menyatakan sampai.

● Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim dalam Syarh Bulughul Maram, mengaTakan:

أما أن نذهب إلى الميت، أو إلى القبر ونقرؤها فبعض العلماء يقول: كان بعض السلف يحب أن يقرأ عنده يس، وبعضهم يحب أن تقرأ عنده سورة الرعد، وبعضهم سورة البقرة، كل ذلك من أقوال السلف ومن أفعالهم، فلا ينبغي الإنكار في ذلك إلى حد الخصومة، ولو أن إنساناً عرض وجهة نظره واكتفى بذلك فقد أدى ما عليه، لكن أن تؤدي إلى الخصومة والمنازعة والمدافعة فهذا ليس من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم في البيان، وفي الدعوة إلى الله أو إلى سنة رسول الله.

“Adapun kami pergi menuju mayit, atau kubur, dan kami membaca Al Quran. Maka sebagian ulama mengatakan: “Dahulu kaum salaf menyukai membaca surat Yasin di samping mayit, sebagian lagi menyukai membaca surat Ar Ra’du, dan sebagian lain surat Al Baqarah. Semua ini merupakan ucapan dan perbuatan kaum salaf (terdahulu). Maka, tidak semestinya mengingkari hal itu hingga lahir kebencian. Seandainya manusia sudah menyampaikan pandangannya maka hal itu sudah cukup, dan dia telah menunaikan apa yang seharusnya. Tetapi jika demi melahirkan permusuhan, perdebatan, dan menyerang, maka ini bukanlah sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam memberikan penjelasan, dan bukan cara dakwah kepada Allah dan kepada sunah Rasulullah.”

Hakekat Sunah

TIDAK CUKUP DENGAN BERJENGGOT UNTUK DAPAT SORGA
__________________

● "HAKEKAT SUNAH" ●

Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa "aswaja adalah pencela sunnah Rasulullah dan para ulama"

Aswaja hanyalah singkatan dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah jadi jika ada seseorang yang mengaku aswaja maka tentu dia tidak akan mencela sunnah Rasulullah maupun mencela ulama.

Contohnya jika seseorang aswaja menyebut-nyebut seputar berjenggot bukan berarti mencela sunnah Rasulullah maupun mencela ulama yang berjenggot.

Para Sahabat pun menyebut-nyebut seputar berjenggot ketika mereka menanyakan orang-orang seperti seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi yang berjenggot

Hal tersebut dapat kita ketahui dalam riwayat yang termuat pada Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 ketika menjelaskan tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi atau khawarij sbb:

__________

“Dengan sedikit keraguan, Khalid bin Walīd bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”
-Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali Imran [3]:31)
- Khalid bin Walid bertanya: “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”
- Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “JADILAH ORANG YANG RAMAH SEPERTI AKU, BERSIKAPLAH PENUH KASIH, CINTAILAH ORANG-ORANG PAPA, BERSIKAPLAH LEMAH-LEMBUT, PENUH PERHATIAN & CINTAI SAUDARA-SAUDARAMU & JADILAH PELINDUNG BAGI MEREKA".
( Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 )

__________________

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa ibadah kepada Allah ta’ala yang dilaksanakan oleh orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi atau khawarij tidaklah cukup jika tidak menimbulkan ke-sholeh-an seperti bersikap ramah, penuh kasih, mencintai orang-orang miskin dan papa, lemah lembut penuh perhatian dan mencintai saudara muslim dan menjadi pelindung bagi mereka.

Intinya adalah jika kita menjalankan sunnah Rasulullah seperti berjenggot, seharusnyalah terwujud akhlakul karimah.

Hal tersebut serupa dengan sebuah nasehat yakni, "Janganlah jenggotmu menutup mata hatimu dan janganpula matamu tidak terbuka seperti mata kakimu untuk melihat atau peduli dengan sekelilingmu".

Orang-orang seperti seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi yakni orang-orang yang pemahamannya telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham) yang disebut juga dengan khawarij. Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar.

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi , mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan muncul suatu sekte/firqoh/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya”.
(HR Muslim 1773)

“Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan” mempunyai makna majaz yakni maknanya sholat mereka tidak sampai ke hati. Sholatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sehingga mereka semakin jauh dari Allah ta’ala

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya”
(diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS al Ankabut [29]:45).

Orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi atau khawarij karena pemahaman mereka telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham) sehingga berani menghardik Sayyidina Ali bin Abi Thalib telah berhukum dengan thagut, berhukum dengan selain hukum Allah.

Semboyan kaum khawarij pada waktu itu adalah “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah. Sayyidina Ali ra menanggapi semboyan tersebut berkata , “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah).

Kaum khawarij salah memahami firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS: Al-Maa’idah: 44).
Kesalahpahaman kaum khawarij sehingga berkeyakinan bahwa Imam Sayyidina Ali ra telah kafir dan berakibat mereka memberontak kepada Sayyidina Ali ra

Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan Al-Qurannya sangat baik. Karena bacaannya yang baik itu, pada masa Sayyidina Umar ibn Khattab ra, ia diutus untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-’Ash. Namun, karena ilmunya yang dangkal (pemahamannya tidak melampaui tenggorokannya) , sesampai di Mesir ia malah terpangaruh oleh hasutan (gahzwul fikri) orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatas namakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun terpengaruh. Ia tinggalkan tugasnya mengajar dan memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi atau khawarij suka mempergunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang kaum muslim

=====

Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.
[Lihat: kitab Sohih Bukhari jilid:4 halaman:197]

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dikatakan sebagai “mereka yang membaca Al Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan” (HR Muslim 1762)

“Tidak melewati kerongkongan” mempunyai makna majaz yakni maknanya "tidak sampai ke hati”. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak menjadikan mereka berakhlakul karimah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“

Semakin banyak mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui ayat-ayat-Nya qauliyah dan kauniyah, maka semakin dekat hubungan dengan-Nya. Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah ta’ala semakin dekat sehingga meraih maqom disisiNya.

Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.

Jadi kalau ada yang memahami Al Qur'an dan As Sunnah dan mengamalkannya namun tidak menjadikannya berakhlakul karimah atau tidak menjadikannya sholeh maka kemungkinan besar adalah salah dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah atau salah mengikuti atau meneladani ulama atau gurunya.

Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam “Musllim yang bagaimana yang paling baik ?”
“Ketika orang lain tidak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya” Jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu aliahi wasallam bersabda “Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya“. (HR. Ahmad)

======

Berikut adalah beberapa pesan dari Sayyidina Umar ra :

“Orang yang tidak memiliki tiga perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat. Tiga perkara tersebut adalah santun ketika mengingatkan orang lain; wara yang menjauhkannya dari hal-hal yang haram / terlarang; dan akhlak mulia dalam bermasyarkat (bergaul)“.

“Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bangga terhadap pendapatnya sendiri. Ketahuilah orang yang mengakui sebagai orang cerdas sebenarnya adalah orang yang sangat bodoh. Orang yang mengatakan bahwa dirinya pasti masuk surga, dia akan masuk neraka“

“Jangan pernah tertipu oleh teriakan seseorang (dakwah bersuara / bernada keras). Tapi akuilah orang yang menyampaikan amanah dan tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya“

“Jangan sampai kalian tertipu oleh puasa dan sholat seseorang. Tetapi perhatikan kejujuran, amanah dan waranya“

“Nilai seseorang dilihat dari agamanya. Dasarnya adalah akal dan wibawanya terletak pada akhlak“

Kesimpulannya ketaatan kepada Allah ta’ala tidak sempurna jika tidak menimbulkan kesholehan sosial

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).”
(HR Bukhari 5552, HR Muslim 4685)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).

KESALAHAN KAIDAH SALAFY/WAHABI

Salafy/Wahabi mengatakan: "Jika tahlilan, mauludan, dziba'an, manaqiban dll itu baik, tentu Rosululloh, para sahabat dan tabi'inlah yang pertama kali melaksanakan ,,, !!"

Aswaja menjawab:

Kaidah salafi wahabi menyalahi nash Al-Qur'an, hadits mauquf dan pendapat ulama

"LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI”

"Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya"
Sebenarnya, inilah yang sering di pakai Abdul Hakim Abdat, dan ustadz salafi wahabi yang lainnya untuk menghantam Aswaja. BENARKAH INI KAIDAH BESAR SEHINGGA DIJADIKAN TOLOK UKUR HALAL HARAM DALAM AGAMA KITA ,,, ??

Berikut akan kita bahas dan temukan sehingga akhirnya dapat di simpulkan bahwa ini sebenarnya bukan kaidah besar melainkan kaidah yang membuat pola pikir muslim menjadi dangkal.

1. Mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak Al-Qur’an.
Silakan dilihat :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

"Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS Al_Ahqaaf: 11)

Dengan demikian dapat ditanyakan,apa pantas golongan yang menisbatkan diri pada SALAF membuat kaidah baru yang berawal dari ucapan kaum kafir untuk kemudian dijadikan kaidah haram halal ,,, ??

2. Menyalahi nash Al-Qur’an
Sebagaimana kita tahu kaidah besar dalam agama ini di antaranya ayat:

وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ َانْتَهُوْا

"Apa saja yang di bawa oleh Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa saja yang di larang oleh Rasul maka berhentilah (mengerjakannya )".(QS. Al-Hasyr: 7)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa perintah agama adalah apa yang di bawa oleh Rasulullah SAW, dan yang dinamakan larangan agama adalah apa yang memang di larang oleh Rasulullah SAW.
Dan tidaklah dikatakan:

وَماَ لَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا

“Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW maka berhentilah (mengerjakannya).”

3. Menyalahi hadist mauquf dari Ibnu Mas’ud ra.

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رءاه المسلمون سيئا فهو عنداالله سيء

“Apa yang di pandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah dan apa saja yang di pandang buruk oleh kaum muslimin, maka menurut Allah pun di golongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad,Bazar, Thabrani dalam Kitab Al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Hadits ini dalam kitab-kitab USHUL FIQIH dijadikan salah satu dalil IJMA’ (konsensus ulama mujtahidin) dan dalam kitab-kitab kaidah FIQH dijadikan dalil dalam kaidah Al-‘Adah Muhakkamah (adat atau tradisi bisa dijadikan sebuah hukum). Hadits ini marfu’ sampai Rasulullah sehingga dapat di jadikan hujjah (dalil) untuk mentakhsish (mengecualikan) keumuman hadits tentang semua bid’ah adalah sesat.

• Berikut ini komentar beberapa ulama:

ما جاء في أثر ابن مسعودرضي الله عنه ما رآه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن وما رآه المسلمون قبيحاً فهوعند الله قبيح ( كشف الأستار عن زوائد البزار” 1/81، و “مجمع الزوائد” 1/177)

Dari atsar Ibnu Mas’ud ra. “Apa yang menurut umat islam umumnya itu baik, maka baik menurut Allah dan apa yg menurut umat islam umumnya itu buruk, maka buruklah menurut Allah [Kitab Kasy al-Astar an Jawaz al-Bazzar juz 1 hal. 81 dan Kitab Majmu' Zawaid juz 1 hal 177]

قال ابن كثير: “وهذا الأثر فيه حكايةُ إجماعٍ عن الصحابة فيتقديم الصديق، والأمركما قاله ابن مسعودٍ“.

Ibnu Katsir berkata, "Atsar ini di dalamnya menjelaskan kesepakatan sahabat yang telah mendahului dalam hal-hal kebenaran sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud"

وقال الشاطبي في الاعتصام ( 2/655) إن ظاهره يدل على أن ما رآه المسلمون بجملتهم حسناً ؛ فهو حسنٌ ، والأمة لا تجتمع على باطلٍ، فاجتماعهم على حسن شيءٍ يدل على حسنه شرعاً ؛ لأن الإجماع يتضمن دليلاً شرعياً.

Imam Syathibi di dalam kitabnya Al-I’tishom juz 2 hal. 655 mengatakan: "sesungguhnya yang secara zhohir apa yg menurut penglihatan orang muslim umumnya mengandung kebaikan maka itu adalah baik, dan umat manusia tidak mungkin sepakat dalam kebatilan. Kesepakatan mereka pada seseuatu akan kebaikannya menunjukkan kebaikan menurut syari'at agama, karena kesepakatan umum mengandung hukum syara' (hukum agama)".

Di sinilah kita bisa mengetahui betapa ahlul hawa (salaf/wahabi) telah merusak tatanan agama yang murni ini, yaitu dinnul islam.

Semoga bermanfaat dan Allah SWT memberikan kita hidayah ,,,, !!, Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin.

Bahasa Arab dan Islam NUsantara

Islam bukan Arab, tetapi Islam tidak bisa dilepas dari bahasa Arab. Bagi sebagian kita yang dalam kondisi On Fire mengkaji Islam Nusantara, hendaknya ini dipikirkan secara serius, mengingat saat ini sebagian dari kita antipati terhadap bahasa Arab. Sikap A-priori terhadap yang berbau Arab sebenarnya imbas daripada sikap kaum Wahabi dan sejenis yang kurang memahami teknik berdakwah secara santun. Dakwah yang mereka usung cenderung keras dan melabrak rambu2 budaya masyarakat lokal dengan cacian. Semua yang tidak sesuai dengan budaya Arab dianggap Kafir, Ahli Bid’ah, Musyrik dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, kata Salafy yang dulu dipakai sebagai jargon pondok-pondok tradisional di Indonesia, saat ini maknanya menjadi bias. Banyak yang beranggapan, kata salafy cenderung berafiliasi pada Wahabi, padahal nyatanya tidak, sekali lagi tidak. Miris memang, lalu harus bagaimana? Satu2nya jalan adalah dengan menambah wawasan lewat mediasi belajar. Belajar kepada guru yang jelas, jangan belajar pada google atau kepada ustadz-ustadz instan yang bermodal sorban dan kemampuan beretorika.

Mengenai bahasa Arab, kita tidak bisa melepaskan Islam dari Bahasa Arab. Karena sendi-sendi agama Islam bermuara pada al-Qur’an dan al-Sunnah yang kedua2nya berbahasa Arab. Al-Qur’an berbahasa Arab merupakan ketentuan Allah dan itu hak Parerogatif-Nya yang tidak bisa diganggu gugat. Saya pun mengakui, pemakaian bahasa Arab di sana memang erat kaitannya dengan aspek budaya Bangsa Arab, karena memang Islam secara normatif lahir dan berkembang di Arab. Dalam kajian Antropologi Budaya, antara bahasa dan budaya merupakan pertautan yang tidak bisa dipisahkan.

Namun, setelah Islam menjadi agama besar dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, maka budaya Arab pun sedikit demi sedikit luntur. Hal ini disebabkan karena umat Islam di berbagai wilayah mempunyai tradisi sendiri-sendiri, sehingga mau tidak mau harus ada sebuah paradigma baru agar Islam benar-benar bisa diterima sebagai agama yang mengusung Rahmatan lil Alamiin. Untuk itu, di sini peran Ijtihad diperlukan. Alhasil, lewat Ijtihad ini al-Qur’an dan al-Sunnah dirasa oleh umat Islam sebagai pijakan yang menembus ruang dan waktu.

Islam Nusantara, bukan berarti kita merubah bahasa Arab di dalam shalat ke bahasa Lokal. Bukan pula membaca al-Qur’an yang berbahasa Arab ke versi bahasa Indonesia. Islam Nusantara sejauh yang saya pahami adalah Islam yang menyelaraskan antara kebudayaan lokal dengan ajaran Islam sehingga tidak terkesan kontradiktif. Islam tidak anti budaya lokal, karena Islam bukan hanya agama bagi bangsa Arab. Prinsip Islam Nusantara adalah Almuhafadzah alaa al-Qadiim al-Shaleh wal al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah (Mempertahankan tradisi lama yang baik, dan mengadobsi tradisi baru yang lebih baik). Semoga bermanfaat

WAHABI AGAMA TEROR

Membongkar Kesesatan Wahabi

TAQIYAH HUJJAH ANDALAN WAHABI..

SOAL BLA BLA...KALO HAL Tersebut TAK PERNAH DIAJARIN OLEH RASULULLAH DAN TAK ADA DALIL QUR'ANNYA, TRUS NGAPAIN HAL Tersebut MESKI DILAKUKAN...?

begitulah ciri khas wahabi mujasimah jika berhujjah. kagak ada hujjah berbobot selain model begitu.

kalaupun ada.. palingan mereka mengatakan " ANDAIKAN ITU BAIK TENTU NABI SUDAH MENCONTOHKANNYA."

Semua wahabi hanya berkutat di situ situ saja dalam hujjah. dan ujung ujungnya di pastikan bagi bagi hadits Bidah..

ibarat teh botol sosro.. apapun makannya yang penting teh botol sosro.nah wahabi juga begitu.. apapun yang di ceritakan yang penting harus berakhir dgn hadits bidah.

Ilmu pengetahuan wahabi wawasannya hanya sebatas itu itu saja kok... entah ulamanya apalagi wahabi kelas kacangan..kalo kagak bisa di cap bidah ya haram.. kalo kagak bisa di cap haram ya syirik... kalo kagak bisa di cap syirik ya kafir.. kalo kagak bisa jika ya Jihad jihad... dan mulai ngomong DAKWAH YANG HAQ. seolah olah para ulama terdahulu kagak ada dakwah yang haq.

la emangnya wahabi kenal agama islam darimana ?? dari Muhammad bin abdul wahabi ?? pendiri wahabi ini tahu islam juga darimana ?? hedeh...

Dalam konteks sejarah para sahabat,tabiin dan tabiun.. ada banyak sekali hal hal yang tidak bisa sama dgn tindakan nabi.Belum pernah ada sejarahnya satu orangpun dari sahabat dan keluarga nabi,tingkah dan tindak tandukanya menyamai nabi.Akan tetapi mereka tetap orang orang terpilih..dan istimwa.

makna sunnah itu Luas. bukan hanya bicara sunnah harus sesuai nabi.hukum darimana sunnah harus dan wajib mesti sesuai nabi ?? .

Apa yang didengar nabi.. nabi tdk marah atas berita itu.. maka itu sunnah walaupun nabi tidak berbuat.

Apa yang di lihat nabi.. nabi tidak marah.. maka itu sunnah walaupun nabi tidak berbuat.

Apa yang diperbuat sahabat.. nabi tahu dan tidak marah.. maka itu sunnah walaupun nabi tidak berbuat.

Jika apa yang didengar,dilihat,diketahui nabi memang keliru.. maka sudah barang tentu nabi menasehati mereka.

mencuri tu merugikan.. maka jelas nabi mengingatkan..
meminum khomar itu merugikan maka jelas nabi mengingatkan..
berzinah itu merugikan maka jelas nabi mengingatkan..

masih banyak contoh praktek orang lain di masanya yang pasti di ingatkan jika salah. la kalo tidak salah walapun tdk di contohkan ?? nabi Diam saja bahkan mendoakannya !. dan itu artinya Boleh membuat hal baru sepanjang tidak merugikan Umat !.

Islam ini sempurna dalam artinya seluruh sistem kehidupan Umat manusia sudah di rangkum dengan begitu baik melebihi agama agama sebelumnya yang telah ada. Dikatakan Islam itu sempurna adalah agama ini meyempurnakan agam agama sebelumnya..karna itu disebut agama penutup.

Paham darimana mengatakan islam telah sempurna lantas tak perlu ada kreasi baru yang mendukung kesempurnaan islam ??

Jika model akal cingkrang begini.. islam bukanya sempurna malahan makin sempit lebih sempit dari agama lainnya !. nalar belum ??

Hukum figh itu mencakup tata kehidupan umat islam. nah Dalam hukum Figh dikatakan

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai hukum.

اِسْتِعْمَالُ النَّاسِ حُجَّةٌ يَجِبُ الْعَمَلُ بِهَا

Perbuatan manusia yang telah tetap dikerjakannya wajib beramal dengannya

لاَيُنْكِرُتَغَيُّرُ الْأَحْكَامِ بِتَغَيُّرِ الْأَزْمَانِ

Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum (berhubungan) dengan perubahan masa. ( harus disesuaikan dgn keadaan masa itu )

Ini Sudah menjadi Ijma sejak masa Rasulullah, artinya Tidak ada larangan mengembangkan kreasi baru sepanjang hal itu tdk merugikan sesama manusia..td menyakiti tetangga.bahkan malahan menjadikan orang makin banyak beribadah dan mengingat betapa LUAR BIASANYA KUASA ALLAH. dikatakan menyimpang dari syariat adalah hal hal yang merugikan umat. Jika hal itu malah menjadikan orang zuhud,tawaduk,qonaah,wara`..dan selalu ingat Allah maka tidak bisa dicap bidah sesat walaupun tdk ada contohnya dari nabi.

Bidah itu bukan Hukum. melainkan menjelaskan perkara sesat,menyimpang dari syariat yang yang tentu saja tidak dicontohkan nabi.Jika hal itu tdk menyalahi syariat maka tdk bisa di katakan bidah melainkan Sunnah yang boleh dijalankan jika ia sanggup melaksanakannya. sampai disini paham arah pemikiran saya ??

disinilah letaknya Nabi kemudian menjelaskan.. sebagimana hadits “Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

Hadits diatas redaksinya sangat jelas BOLEH MEMULAI PERBUATAN BAIK dan tentu saja banyak macam ragamnya sepanjang tdk merugikan agama dan Umat Islam.Jika sudah begini apakah mesti ada contoh dari nabi ?? jawabnya Tidak !.

Contoh. Jika kita bicara maulid nabi.. maka ia masuk juga dalam perkara figh yakni hukum urf.

apa itu urf ?

‘Urf itu merupakan sesuatu yang telah banyak dilakukan masyarakat baik perkataan maupun perbuatan sehingga telah menjadi suatu kebiasaan (adat) yang mana kebiasaan itu dianggap baik oleh masyarakat secara keseluruhan.

nah.. maulid itu sudah menjadi kebiasaan umum mayorutas umat islam toh ??

Ingat bahwa ‘Urf itu diakui dalam hukum Islam, akan tetapi tidaklah mutlak, karena harus memenuhi beberapa syarat tertentu, yaitu:

1`.‘Urf ini berlaku umum artinya dapat diberlakukan untuk mayoritas persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan keberlakuannya dianut oleh mayoritas masyarakat.

2. ‘Urf telah memasyarakat ketika persoalan yang akan ditetapkan hukumnya. Artinya ‘urf itu lebih dulu ada sebelum kasus yang akan ditetapkan hukumnya.

3.‘Urf itu tidak bertentangan dengan yang diungkapkan secara jelas dalam suatu transaksi.

4.‘Urf tidak bertentangan dengan nash, sehingga hukum yang dikandung nash tidak bisa diterapkan.

coba anda pikir.. apakah maulid merugikan ?? tidak !.

Hukum Hukum Ilmu figh itu amat luas..mencangkup perkara amal ibadah yang diantaranya di contohkan oleh nabi dan ada yang tidak di contohkan oleh nabi..ini tentu di sesuaikan dengan keadaan masa..
لاَيُنْكِرُتَغَيُّرُ الْأَحْكَامِ بِتَغَيُّرِ الْأَزْمَانِ

Alangkah sempitnya paham tetangga sebelah kita sampai sampai segala sesuatunya harus berakhir dgn Bidah melulu.jika begini logika mereka..maka Islam ini justru memalukan ketimbang agama lainnya yang jauh lebih luwes.

pantas saja orang kafir macam kristen mengatakan islam itu agama teroris.karna melihat tingkah laku tetangga sebelah yang wawasanya sempit.Jika sudah begini..sama halnya tetangga sebelah bukannya mengajak kafir masuk islam.. melainkan tanpa sadar membuat orang kafir makin benci..lebih lebih di masa sekarang ini...yang paling banyak ribut adalah orang islam berfikiran sempit..macam tetangga sebelah kita. wahabi ISIS misalnya.. jelas nalar sempit.padahal agama ini di bawa oleh nabi untuk menciptakan suasana damai.. aman dan tentram.dimana orang merasa nikmat beribadah..bukannya..agama teror..koar koar bidah,syrik dan kafir.Intaha.

NB. BUAT KAFIR KRISTEN.

wahai Kaum kristen. jika kalian ingin melihat islam yang damai maka lihatlah Aswaja.. jangan wahabi.juga sempelannya. pelajarilah Aswaja baik baik,bertanyalah pada ahli Ulama aswaja di berbagai pondok pesantren jika ingin mengenal islam dgn benar. dan jika berkenanlah.. jadilah Mualaf aswaja.. dan islam yang penuh damai dan kasih sayang.

Jangan pahami Wahabi juga sempelanya karna jika kalian belajar Islam dengn mereka maka kalian termasuk orang yang rugi karna pada akhirnya kalian tidak akan dapat kedamaian.. selain hanya menjadi bulan bulanan mereka.

Ingat baik baik. jika kalian mau mengenal islam dgn benar dan menyenangkan dari agama kalian sebelumnya maka kenalilah Aswaja jangan islam sempalan.

PESKIL pesantren kilat ramadhan

Waspadai Pesantren Ramadhan di Sekolah Disusupi Wahhabi

Menghadapi bulan suci Ramadhan, sejumlah sekolah biasanya telah menyiapkan pengajian agama Islam yang dikenal dengan pesantren Ramadhan. Namun hendaknya perlu juga waspada lantaran ini dimanfaatkan kalangan tertentu untuk menyebarkan Islam garis keras.

Peringatan disampaikan Wakil Ketua PWNU Jatim KH Abdurrahman Navis. Ia teringat pada kasus seperti ini yang pernah terjadi di sejumlah kota. "Kejadian pernah terjadi di Malang," katanya kepada NU Online, Sabtu (23/5).

Modus yang dilakukan kelompok ini lumayan canggih. "Mereka memasang para tokoh lokal setempat untuk mengelabui khalayak," kata Kiai Navis.

Tidak jarang, di proposal dan baliho serta pamflet yang diedarkan, sejumlah kiai sengaja dipampang sebagai narasumber. Padahal, nama-nama para tokoh agama tersebut hanya untuk menutupi muslihat yang dilakukan.

"Pernah ada pengurus NU yang dipampang dan dihadirkan, namun hanya untuk membuka acara," terang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Sedangkan saat acara pesantren Ramadhan berlangsung, justru para tutor dari kalangan mereka yang memberikan pendalaman agama.

Realita ini hendaknya membuka kesadaran para pegiat NU dan Aswaja untuk mengambil peran aktif agar tidak kalah dengan modus yang mereka lakukan. "Sudah saatnya para pegiat NU dan Aswaja mengantisipasi kejadian seperti ini," kata Direktur Aswaja NU Center Jatim ini.

Karenanya, jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba, aktivis Aswaja NU bisa melakukan pendekatan dan meyakinkan kepada sejumlah sekolah bahwa pendalaman agama Islam yang ditawarkan adalah sesuai dengan syariat. "Tentunya dengan Islam yang menghargai budaya lokal, seperti diwariskan para Walisongo," terangnya.

Untuk dapat berpartisipasi dalam kajian agama selama Ramadhan, sudah saatnya seluruh materi disiapkan, tentunya dengan narasumber yang menguasai materi secara baik. "Hal ini penting agar pemahaman agama Islam selama Ramadhan bagi para siswa dan siswi bisa dipertanggungjawabkan," pungkasnya. (Syaifullah/Alhafiz K)

sumber nu.or.id

HTI_hizbut taher indonesia

Pandangan KH. Hasyim Muzadi terhadap Gerakan Khilafah

Sebelum Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebelumnya adalah Dr. KH. Hasyim Muzadi, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang. Saat ini KH. Hasyim Muzadi menjabat sebagai Rais Syuriah PBNU. Beliau juga Presiden World Conference on Religions for Peace dan Sekretaris Jenderal (Sekjend) International Conference of Islamic Scholars (ICIS).

Saat menjadi Ketua Umum PBNU, Kyai Muzadi pernah mengatakan bahwa PBNU tak keberatan jika ada kelompok Islam berhaluan idelogi transnasional yang ingin mengembangkan dakwah Islam di Indonesia. Tetapi, bila ingin mendirikan Pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah), maka harus ditolak.

“Kalau berdakwah, boleh saja, silakan. Tapi kalau mau (mendirikan, Red) Khilafah Islamiyah, tidak boleh,” tegas Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi sebagamana pernah diberitakan oleh NU Online pada 2007 lalu.

Bagi NU, menurut KH. Hasyim Muzadi, Islam tak perlu diformalkan dalam bentuk sebuah pemerintahan. Sepanjang substansi atau ajaran dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Islam bisa terwujud, maka pemerintahan Islam merupakan sesuatu yang sia-sia.

Selain itu, katanya, ide dan gagasan pendirian pemerintahan Islam tersebut tidaklah berasal dari tradisi dan budaya yang tumbuh serta berkembang di Indonesia sendiri. Sehingga, tidak akan sesuai jika dipaksakan untuk diterapkan, besar kemungkinan akan terjadi konflik.

Kyai Hasyim juga mengungkapkan, ide pendirian pemerintahan Islam sebagaimana yang diperjuangkan kelompok Islam garis keras di Indonesia, sudah tak ‘laku’ di negeri asalnya, di Timur Tengah. Tak hanya itu. Antar-kelompok sesama pengikut ide pemerintahan Islam pun terjadi konflik.

“Nah, anehnya, kenapa ada kelompok-kelompok dari bangsa ini yang meng-agen-i gerakan transnasional yang ingin Khilafah Islamiyah itu? Di negaranya sendiri, mereka dilarang karena dianggap mengancam kekuasaan negara yang berdaulat,” terang Kyai Hasyim.

Hasyim juga mengingatkan, gerakan politik yang berhaluan ideologi transnasional tak hanya terdapat pada agama Islam. Melainkan juga terdapat pada agama lain. Semuanya sama-sama mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

“Gerakan apapun dan dari mana pun datangnya, yang berhaluan ideologi transnasional, sama-sama berbahayanya bagi keutuhan NKRI, termasuk gerakan transnasional yang dibentuk Amerika Serikat. Kita orang Indonesia, jadi, semuanya harus Indonesiawi,” pungkas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu. (rif)

Jumat, 29 Mei 2015

Waspada gerakan radikal dalam pemahaman agama

Ketika Fatwa Salafi Wahabi Bergandeng Mesra dengan Misi Zionis Yahudi

Beberapa tahun yang lalu ketika usiaku masih belasan tahun dan sedang mengenyam pendidikan di sebuah Pesantren, aku mendapati selebaran yang berisi peringatan terhadap Umat Islam untuk mewaspadai misi Zionis, diantara yang aku ingat adalah :

1. Pisahkan umat Islam dari ulamanya

2. Pisahkan umat Islam dari Nabinya

3. Pisahkan umat Islam dari kitab sucinya (Al-Quran )

4. Pecah belah dan hancurkan!

salafi wahabiBeberapa tahun setelah aku kembali ke kampung, aku dapati fenomena Salafi Wahabi. Dan ketika aku mencermati dogma (ajaran) serta cara mereka “berdakwah” (menyampaikan ajarannya), timbul kecurigaan kuat mereka adalah kaki tangan Zionis. Kecurigaanku bukan tanpa alasan, berikut mari bersama kita cermati secara kritis dengan fikiran dan hati yang jernih tentang beberapa fatwa Salafi Wahabi sekaligus efek yang terjadi dalam konteks keselarasan fatwa-fatwa tersebut dengan misi Zionis:
Misi Zionis 1: Pisahkan umat Islam dari ulamanyaanehsi ini bertujuan agar umat Islam kehilangan central command/komando yang terpusat dalam segala hal, baik dalam berpolitik, bersosial, beragama, serta menghilangkan metode yang benar dalam memahami agama. Mereka sadar bahwa kegagalan mereka selama ini diakibatkan oleh kuatnya semangat dan persatuan kaum Muslimin dalam melawan mereka. Dan semangat serta persatuan kaum Muslimin tersebut faktanya berpusat pada para ulama. Fakta terbaru, adalah betapa dahsyat akibat/efek dari “Resolusi Jihad” (22-Okt-1945) yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari (NU) juga betapa dahsyat dampak dari seruan para ulama dalam menumpas PKI.

Fatwa Salafi Wahabi yang disinyalir “mendukung” misi zionis tersebut di antaranya adalah :

1. Sesatnya Mazhab Asya’irah/ Asy’ariah dan Maturidiah

Bukti paling dekat atas fatwa tersebut adalah buku yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Ust. Yazid Ibn Abdil Qodir Jawas. Dalam buku tersebut pada bab terakhir dengan gamblang Ust. Yazid Jawas mengelompokkan Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. Sebuah buku yang kontradiktif dengan buku yang mereka ciptakan sebelumnya yang merupakan Tahrif (penyimpangan) dari al Ibanah yang berjudul “Buku Putih Imam Al Asy’ari” dengan penerjemah Abu Ihasan Al Atsari, penerbit At Tibyan.

2. Propaganda : Para Ulama adalah Manusia yang Tidak Ma’shum (Tidak terjaga dari salah)

Propaganda “Para ulama adalah manusia yang tidak ma’shum” adalah “Kalimatu Haqqin Uriida Biha Al Bathil” (pernyataan yang benar yang disertai misi batil). Propaganda ini berperan untuk mendorong umat Islam keluar dari mazhab-mazhab yang mu’tabar (diakui) dan beralih kepada “mazhab” yang mereka bangun (mazhab yang tidak bermetode dalam memahami Al-Quran dan Sunnah). Propaganda ini mengesampingkan pesan Allah: “Maka bertanyalah kalian pada Ahlidz Dzikri jika kalian tidak tahu” (An Nahl : 43 dan Al Anbiya’ : 7)

Efek lain dari propaganda ini dapat Anda buktikan dalam sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof enggan menerima pendapat para ulama dengan alasan mereka tidak ma’shum.

3. Tuduhan “Ta’ashub” (Fanatik) kepada Para Penganut Mazhab

4. Tuduhan “Ghuluw” (Berlebihan) Bahkan Musyrik terhadap Umat Islam yang Menghormati Para Ulama denga Cara Mencium Tangan

5. Haramnya Tawasul dengan Orang-orang Shaleh yang Sudah Meninggal.

Efek lain yang ditimbulkan dari fatwa-fatwa dan propaganda tersebut diantaranya adalah:

a. Hilangnya atau setidaknya berkurangnya trust/kepercayaan umat Islam terhadap para ulama khususnya yang bermazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah semacam Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam An-Nawawi, Imam Al-Haitami, Imam Al-Qurthubi, bahkan sebagian besar Pengarang “Al Kutub As Sittah” serta ratusan ulama yang lain.

b. Membuang semua/sebagian pendapat para ulama Asy’ariyah & Maturidiyah yang tidak sesuai misi mereka.

c. Bebas men-tahrif (mengubah) karya-karya mereka yang tidak sesuai keinginan dan bahkan membakarnya, karena dianggap karya orang-orang sesat.

d. Menggantikan peran/pendapat para ulama sejak abad ke-3 hingga abad ke-19 (Munculnya Muhammad Ibnu Abdil Wahab) dengan para “ulama” yang mereka ciptakan diabad 19 dst.

e. Cukup banyak ulama yang pemikirannya dijauhkan dari umatnya.

f. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa hormat umat Islam terhadap para ulamanya.

g. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi kepatuhan umat Islam terhadap para ulamanya.

h. Menghilangkan metode yang benar dalam mamahami Islam. (hal ini penting untuk misi yang lain)

i. Ibarat hutan yang telah ditinggal “Macan”nya, dan yang tersisa hanyalah “Macan” ompong piaraan dengan fatwa-fatwa aneh.

j. dll

Misi Zionis 2: Pisahkan Umat Islam dari Nabinya
Misi ini penting, mengingat ikatan emosional umat Islam dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah faktor fital yang mampu membuat umat Islam rela mengorbankan segalanya.

Adapun fatwa dan tindakan yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut adalah:

1. Haramnya Bepergian Menziarahi (Qubbatul Khadra’) Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Anda yang pernah menziarahi Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tahu efek emosional bagi penziarah baik ketika berziarah maupun sesudahnya. Betapa hati yang normal takkan mampu membendung air mata ketika berada di pusara mulia beliau. Rasa haru, bahagia, malu, rindu, bangga, terimakasih, bercampur dalam sebuah hidangan istimewa berupa “Mahabbah” (rasa cinta) yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.

Anehnya menurut teman-teman yang pernah muqim di Saudi, ada ulama kebanggaan Wahabi (maaf tidak disebut nama karena orangnya sudah meninggal) yang bersyukur karena tidak pernah menziarahi makam Nabi selama 25 tahun tinggal di Madinah, hingga para santri di sana berkata: “Memang Nabi nggak mau ketemu Anda”.

2. Haramnya Pelaksanaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mereka sadar betul akan efek tumbuhnya rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui pujian dan pembacaan sirah Nabi yang ada dalam kitab-kitab maulid yang identik lebih mengangkat sisi Irhash dan Mukjizat Nabi. Fakta telah membuktikan efek Maulid yang terjadi pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, bahkan fakta terbaru adalah betapa dahsyat efek “Shalawat Badar” dalam membakar semangat umat Islam guna menumpas PKI.

3. Haramnya Tawasul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Wafat

Hal ini jika kita cermati argumentasi mereka kita dapati sebuah fakta: Menghilangkan atau setidaknya mengurangi pemahaman umat Islam terhadap Nabinya dalam aspek Nubuwwah dan lebih menonjolkan aspek Basyariyah Nabi (sisi kemanusiaan). Bukti dari efek tersebut adalah pernyataan ulama kebanggaan mereka yang menyatakan bahwa tongkatnya lebih berguna daripada Rasulullah yang sudah wafat.

Dan bukti lain adalah sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof tidak puas ketika diajukan hadits shahih dari Imam Al-Bukhari dengan dalih Nabi Muhammad bisa salah berdasar QS: ‘Abasa.

4. Menghilangkan Situs-Situs Bersejarah yang Berkaitan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para Sahabat

Efek yang ditimbulkan dari tindakan tersebut adalah: Hilangnya bukti fisik perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang dapat membangkitkan semangat dan keimanan umat Islam.

Jika dalam penghancuran situs-situs bersejarah tersebut Salafi/Wahabi beralasan “Syaddudz Dzari’ah” (mencegah kemungkaran yang mungkin ditimbulkan) yakni sikap “Ghuluw” (berlebihan), maka faktanya mereka mengalihkan sikap “Ghuluw” tersebut kepada Syekh Al ‘Utsimin dengan membangun museum Yayasan Al ‘Utsaimin. Dimana dalam museum tersebut tidak hanya karya sang Syekh yang dihormati, bahkan pena terakhir sang Syekh-pun ditempatkan di tempat khusus dalam etalase mahal. Memang aneh.

Misi Zionis 3: Pisahkan Umat Islam dari Al-Quran
Kita semua tahu arti dan peran Kitab Suci bagi semua pemeluk agama, maka sangat wajar jika misi ketiga ini menjadi misi penting. Adapun fatwa dan propaganda Salafi/Wahabi yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut diantaranya adalah:

1. Haram Mengikuti Mazhab Tertentu

Silahkan Anda baca Fatwa Syekh Albani tentang masalah tersebut, dan silahkan Anda bayangkan ketika kaum awam melepaskan diri dari tuntunan para ulama dalam memahami Al-Quran.

Bukti akan adanya efek tersebut adalah propaganda yang didengungkan MTA, yakni : “Ngaji ko’ kitab kuning, Ngaji ya Al-Quran sak maknanya”. Dan akibatnya fatwa-fatwa mereka ngawur dan paling ironis dengan enteng mereka mengafirkan sesama saudara Muslim.

2. Jargon Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah

Coba kita cermati akibat yang ditimbulkan dari keberanian orang-orang awam menginterpretasikan Al-Quran tanpa sarana ilmu yang memadahi. Disamping pemahaman yang kontradiktif, mereka telah lepas dari nafas Al-Quran itu sendiri, sehingga begitu mudah mereka mengafirkan sesama umat Islam.

Hal inilah yang diwanti-wanti Rasulullah dalam sabda beliau:

يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ .

“Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri khas mereka?” Rasul menjawab “Bercukur gundul”. (Sunan Abu Daud : 4765)

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sebaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Bukhari Muslim)

Selanjutnya adalah misi Zionis ke empat:

Misi Zionis 4. Pecah Belah Lalu Hancurkan!
Inilah tujuan pokok dari misi-misi penghantar yang kami sebutkan di atas. Sebagaimana di wanti-wantikan Allah dalam Al-Quran :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” (QS : Al Baqarah:120)

Sedang tindakan kongkrit dalam mendukung misi ini adalah menciptakan kelompok yang menyimpang yang mereka lindungi atas nama HAM semisal “AHMADIYAH” di India, dan di saat bersamaan mereka ciptakan “WAHABI” di Timur Tengah (Arab Saudi), sebuah kelompok yang berhasil membuat umat Islam saling menghujat, saling mengkafirkan, dst.

Lantas adakah korelasinya misi Zionis tersebut dengan fatwa dan atau propaganda di atas? Mari kita cermati bersama:

Apakah jadinya ketika umat Islam sudah tidak lagi menghormati figur-figur yang dapat meredam pertikaian dan mempersatukan umat, yakni para ulama? Dan apa jadinya ketika umat Islam memandang dan memahami Nabinya hanya dari aspek Basyariyah (manusia biasa)? Dan apa jadinya ketika umat Islam yang tidak memiliki sarana ilmu yang memadai ikut-ikutan berijtihad dan mengesampingkan tuntunan para ulama?

Fakta yang sudah di depan mata adalah: PERPECAHAN UMAT ISLAM !

Wal ‘Iyaadzu Billah…

(Mundzir Ahmad)